Bule, pendatang, atau warga asing?

Beberapa waktu lalu saya tengah menyimak diskusi antara ekspatriat dan orang-orang Indonesia di sebuah grup di Facebook. Diskusi tentang sebutan “bule”. Beberapa ekspatriat keberatan dengan sebutan tersebut, tak lain karena kata “bule” berasal dari kata “albino” (sebutan bagi penderitaalbinisme).

Obrolan tentang sebutan “bule” ini sudah beberapa kali saya dengar sebelumnya, tapi tetap saja pada akhirnya, diskusi ini tidak pernah berakhir dengan kesimpulan yang memuaskan.

Istilah “bule” yang digunakan untuk menyebut orang kulit putih (Kaukasia) sudah terlanjur umum digunakan. Kata “bule” lebih ringkas jika dibandingkan dengan “orang kulit putih” sehingga lebih populer digunakan dalam percakapan.

Mungkin tidak banyak orang tahu asal muasal kata “bule” dan murni menggunakannya karena alasan kepopuleran, tanpa bermaksud mengolok-olok. Lagipula, tidak ada keharusan bagi penutur bahasa untuk selalu tahu asal muasal tiap kata yang ia gunakan.

Jangan salah sangka dulu, mengetahui asal-muasal sebuah kata adalah baik (apalagi bagi orang-orang yang berkutat di bidang Etimologi) namun sekali lagi, bahasa adalah lebih dari sekadar mata pelajaran. Makna dan keberterimaan sebuah istilah, pada akhirnya ditentukan oleh sebagian besar penutur. Saya bilang “sebagian besar” karena memang seperti demikian itu adanya; bahasa lahir dari masyarakat, di tengah masyarakat.

Oke, mungkin yang saya sebutkan di atas lebih berlaku pada ragam cakap daripada ragam tulis. Pada ragam tulis, Anda dapat menggunakan istilah yang menurut Anda paling baik dan sesuai dengan kaidah bahasa. Kalau pun istilah yang dipakai belum populer, biarkan saja pembaca bingung mengubek-ubek kamus. Apalagi jika tulisan Anda memang sengaja dibuat eksklusif, yang diperuntukkan bagi kalangan cerdas dan terpelajar saja.

Istilah alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan kata “bule” adalah “orang asing” (foreigners). Namun, bagaimana kalau orang kulit putih tersebut sudah tinggal selama puluhan tahun di Indonesia; apakah sebutan “asing” itu relevan? Saya tidak begitu yakin mereka akan senang jika seterusnya dianggap asing.

Terlepas dari kekurangan tersebut, istilah “orang asing” cenderung lebih fleksibel dibandingkan dengan istilah “bule” karena bisa digunakan juga untuk merujuk orang kulit hitam, kuning dan lain-lain.

Alternatif lain selain “orang asing” adalah “pendatang” (visitors) dan “orang berkewarganegaraan lain” (people holding non-Indonesian passports). Karena tidak merujuk pada warna kulit, kedua istilah ini tampaknya paling aman untuk menghindari kesalahpahaman. Akan tetapi, dalam istilah “pendatang”, masih ada kesan meng-asingkan[1] orang tersebut. Setidaknya demikianlah yang saya rasakan saat saya tinggal di kota yang bukan tempat saya dilahirkan atau dibesarkan.

Walaupun penggunaan istilah “pendatang” mungkin tepat secara linguistik, kesan aktual yang saya rasakan; I’m not a part of them and will never be. Padahal ini kasusnya saya orang Indonesia (atau lebih spesifik, kejadiannya di suatu kota di Jawa Tengah dan saya adalah orang Jawa).

Yah, setidaknya, selama beberapa tahun menyandang status “pendatang” di kota tersebut membuat saya belajar satu hal; you’re always be a stranger in other places but your hometown. Peduli setan masih satu suku bangsa atau bahasa.

Dari pengalaman tersebut juga, saya belajar untuk *tidak keberatan* jika disebut “pendatang” apabila tinggal di wilayah lain. Dan lambat-laun saya menjadi terbiasa (I’m not sure). Saya pernah hidup sebagai “pendatang” di Jakarta, dan sekarang di Bali. Konyol ya, mengapa menjadi seorang Indonesia tidak cukup untuk membuatmu diterima di setiap jengkal wilayahnya.

Sebutan “pendatang”, menurut saya, menandakan jarak dan tak lain dibuat untuk melabel. Kasarnya, dengan adanya istilah tersebut, mungkin apabila ada perselisihan, kita dapat dengan mudah membedakan; mana yang harus dianggap musuh dan mana yang dianggap saudara?

Now, please reflect back, coba ingat berbagai kasus perselisihan antara “pendatang” dan “asli”. What could it be if there were no such terms as “pendatang” or “asli”? Tapi saya tidak akan membahas lebih banyak soal ini (see, I digress too much already). You can keep the terms if you insist on marking the distance, anyway.

Intinya, kalau sebutan “pendatang” ini *sah* digunakan oleh orang Indonesia untuk menyebut sesama Indonesia, maka lantas istilah yang sama pun dianggap wajar untuk menyebut orang-orang berkewarganegaraan lain.

Istilah “orang berkewarganegaraan lain” rasanya paling pas karena hanya merujuk pada perbedaan kewarganegaraan saja. Tidak ada penyebutan warna kulit atau penanda “pengasingan” yang begitu jelas. Akan tetapi (ya, ada tapinya lagi), istilah ini terlalu panjang untuk digunakan dalam ragam cakap santai dan cenderung terdengar terlalu formal.

Atau lebih baik kita pakai istilah WNA (Warga Negara Asing) saja? Ah, lagi-lagi kata “asing”.


Category: Uncategorized

About the Author


Komentar yang mencantumkan nomor hape , referallan , blog jual prediksi langsung BLACKLIST, BLACKLIST!!!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a>1</a> <b>2</b> <i>3</i> <cite>4</cite><code>5</code> <strong>6</strong> <u>7</u> <em>8</em> <del>9</del> <strike>0</strike>

togel online terpercaya
togel online terpercaya
«
»




Himbauan

PENGUMUMAN UMUM

WEB PRETOPER
( Prediksi Togel Perawan )
BUKAN SITUS JUAL PREDIKSI
KAMI TIDAK PERNAH
MENJUAL PREDIKSI KE SIAPAPUN DAN DIMANAPUN
APABILA ADA YANG MENGGUNAKAN
NAMA NAMA KAMI
ITU TINDAKAN ORANG
YANG MEMANFAATKAN NAMA KAMI
HANYA UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI
"Jika ada agen judi yang curang di antara banner di web ini,silahkan konfirmasi ke saya ( JIKA TERBUKTI BANNER SAYA TURUNKAN WALAU SEWA MASIH ADA )

PENGUNJUNG


Komentar Terakhir anda

eyie99 on HK MINGGU
Putra rempe on SGP SENIN
rudy72 on HK MINGGU
GEMPA DISALDO on HK MINGGU
rudy72 on HK MINGGU
caesar on SGP MINGGU
Coki bolong on SGP MINGGU
CUN CUN on SGP MINGGU

ADMIN PTP
SALSAHEBAT OZY PTP

LOGIN