Terkadang kita beranggapan bahwa tamu adalah sesuatu yang menyusahkan terutama jika tamunya itu bukan orang yang sudah dikenal dekat seperti saudara, tetangga ataupun teman dekat lainnya, karena tentunya selain harus menyisihkan waktu untuk melayani keperluannya (ngobrol), juga biasanya harus menjamunya dengan setidak-tidaknya menyuguhkan segelas air putih. Terlebih lagi bila datangnya pada saat-saat kita dalam kondisi tidak siap menerimanya karena suatu kesibukan ataupun sedang istirahat. Seperti dalam guyonan orang sunda, di mana tamu atau bahasa sundanya “semah” seringkali diartikan dalam ungkapan kirata “ngahesekeun nu boga imah” artinya “menyusahkan yang punya rumah”. Padahal seandainya kita memahami akan hal yang sesungguhnya, maka bisa jadi dalam kondisi apapun kita akan sangat menyenangi terhadap setiap kedatangan tamu.

Pada dasarnya tamu adalah orang yang datang atau berkunjung ke rumah kita dengan cara yang baik-baik, tidak terkecuali orang itu sebelumnya dikenal ataupun tidak dikenal, saudara ataupun orang lain, diundang ataupun tidak diundang, bahkan muslim ataupun non muslim. Siapapun tamu sesungguhnya adalah sesuatu yang membawa berkah dan sesuatu yang akan mendatangkan pahala. Dalam hubungannya dengan orang yang bukan muslim, ajaran Islam tidaklah memilah-milah sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (Al-Mumtahanah, QS 60 : 8).

Itulah keberadaan tamu, sebagaimana Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umrah.”

“Satu dirham yang disedekahkan oleh seorang lelaki kepada tamunya, (nilainya) lebih baik dibanding seribu dinar yang didermakan di sabilillah. Barang siapa memuliakan tamu dengan ikhlas karena Allah, maka Allah Ta’alla akan memuliakannya di hari kiamat nanti dengan seribu kemuliaan. Allah membebaskan dia dari neraka dan memasukannya ke dalam surga.”

Dalam riwayat hadis lainnya ditegaskan bahwa tamu juga membawa rezekinya sendiri serta merta membawa sesuatu yang akan menjadikan terhapusnya dosa pemilik rumah, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membenci tamu. Karena sesungguhnya jika ada tamu yang datang, maka dia akan datang dengan membawa rezekinya. Dan jika dia pulang, maka dia akan pulang dengan membawa dosa pemilik rumah.”

Demikian juga yang diriwayatkan dalam hadis Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa kepada Ali beliau bersabda :

“Wahai Ali, jika kamu dikunjungi oleh tamu, maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugrah kepadamu. Sebab Dia telah mengutus sesuatu yang bisa menyebabkan dosamu diampuni.”

Bukan itu saja, bahkan cahaya kebaikannya akan menyinari bukan saja hanya kepada pemilik rumah, akan tetapi juga kepada semua orang yang menghuni rumah tersebut, seberapapun banyaknya dan seburuk apapun keimanan mereka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Mu’adz Ibnu Jabal ra. :

“Tidak ada satu rumahpun yang dikunjungi oleh tamu, kecuali Allah Tabaarak wa Ta’ala mengutus ke rumah tersebut satu malaikat yang menyerupai burung selama empat puluh hari sebelum tamu itu sampai. Malaikat itu akan menyeru : ‘Wahai pemilik rumah si fulan ibn si fulan, tamu kalian akan dating pada hari ini dan itu. Sedangkan balasan dari Allah adalah ini dan itu.’ Para malaikat yang diwakilkan untuk menjaga rumah itu berkata : ‘Setelas balasan apa lagi yang akan diterima?’ Maka keluarlah malaikat tadi kepada mereka dengan membawa sebuah catatan yang tertulis : ‘Allah telah mengampuni penghuni rumah tersebut, meskipun jumlah mereka seribu.’”

“Tidak ada seorang hamba mukminpun yang memuliakan seorang tamu ikhlas karena Allah Yang Maha Dermawan, kecuali Allah akan memperhatikannya sekalipun dia berada di antara kerumunan orang. Seandainya tamu yang datang termasuk ahli surga dan pemilik rumah ahli neraka, maka Allah Ta’ala menjadikan pemilik rumah tersebut termasuk ahli surga karena telah memuliakan tamunya.”

Tentu saja pahala yang begitu besar nilainya itu tidak akan pernah kita peroleh, kecuali jika kita mau menghargai dan menghormati tamu tersebut dengan tulus dan ikhlas yang ditunjukkan bukan saja dengan hanya berperilaku dan bersikap baik, akan tetapi juga dalam hal jamuan yang disuguhkanpun hendaknya berasal dari barang-barang yang baik (halal). Begitulah keharusan memuliakan tamu yang diisyaratkan bagi orang-orang beriman, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR.Muslim).

Tentang jamuan makanan, Ibnul Jauzy dalam bukunya “Sukses Meraih Surga” membagi jamuan makanan menjadi tiga macam yakni makhluf (akan diganti),masluf (berlalu begitu saja) dan matluf (lenyap tidak dihiraukan). Jamuan makhlufadalah makanan yang disuguhkan ikhlas karena Allah, di mana pemilik makanan sama sekali tidak berniat selain Allah dan tidak mengharapkan adanya balasan. Jamuan masluf adalah jamuan yang disuguhkan atas dasar timbal balik atau balasan terhadap perlakuan yang sama yang dilakukan oleh tamu tersebut ketika kita bertamu kepadanya. Sementara jamuan matluf adalah segala jamuan yang disuguhkan untuk tujuan maksiat yakni jamuan yang berasal bukan dari sesuatu yang halal, misalnya minuman keras atau barang yang tidak diridhai Allah lainnya. Untuk jenis jamuanmakhluf dan masluf dapat mendatangkan pahala bagi pelakunya, hanya saja jamuanmakhluf memiliki kadar pahala yang lebih besar dari jamuan masluf. Sedangkan jamuan matluf baik terhadap pemilik maupun tamunya akan menjadikan penyesalan dan kerugian kelak pada hari kiamat.

Begitu mulianya balasan Allah kepada orang yang senantiasa memuliakan tamunya. Begitu besarnya anugrah yang dilimpahkan-Nya. Sehingga agar umatnya senantiasa tidak bosan dalam menghormati tamunya, maka Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam menyediakan jamuan,  karena hal ini akan membuat jemu dan bosan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa kepada Aisyah beliau bersabda :

“Wahai Aisyah, janganlah kamu terlalu berlebih-lebihan (ketika menjamu) tamu sehingga hal ini membuatmu bosan.”

Bagaimana dengan tamu yang datang dengan tujuan tidak baik? Memang tidak semua tamu membawa niat baik meskipun datangnya dengan baik, adakalanya mereka datang dengan maksud tidak baik misalnya mengajak kemaksiatan, mengajak membicarakan keburukan orang lain (gibah), menipu untuk mendapatkan keuntungan, memaksa untuk mengambil harta benda dan lain sebagainya. Katakanlah kita tertipu oleh kedatangannya dengan penampilan dan sikapnya yang baik, maka terhadap orang-orang yang demikian hendaklah semampu kita untuk berusaha menghindarinya dan bila perlu bersikaplah tegas. Allah Maha Mengetahui dan Maha Melindungi, cukuplah kepada-Nya memohon pertolongan, sementara pahala terhadap niat baik yang telah kita gulirkan tidak akan menjadi sia-sia dan akan senantiasa tetap tercurah. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya Cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (Al-Anfal, QS 8: 62)

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Yusuf, QS 12 : 115)

Begitu juga ketika kita bertamu, Allah SWT tidak akan melepaskan kita dari curahan kebaikan tentunya jika kita mau memperhatikan etika-etika tertentu dalam adab bertamu sebagaimana firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (An-Nur QS 24 : 27).

“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu ‘Kembali (saja)lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An-Nur QS 24 : 28).

“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk di diami, yang di dalamnya ada keperluan, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (An-Nur QS 24 : 29).

Begitulah ajaran Islam, baik bertamu terlebih memuliakan tamu telah digariskan oleh Allah SWT dalam sebuah ketentuan yang tentunya akan membawa kita kepada kebaikan, serta anugrah yang dilimpahkan-Nya begitu indah.*****


Category: Uncategorized
Foto Profil dari salsahebat

About the Author


Komentar yang mencantumkan nomor hape , referallan , blog jual prediksi langsung BLACKLIST, BLACKLIST!!!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a>1</a> <b>2</b> <i>3</i> <cite>4</cite><code>5</code> <strong>6</strong> <u>7</u> <em>8</em> <del>9</del> <strike>0</strike>

togel online terpercaya
«
»




Himbauan

PENGUMUMAN UMUM

WEB PRETOPER
( Prediksi Togel Perawan )
BUKAN SITUS JUAL PREDIKSI
KAMI TIDAK PERNAH
MENJUAL PREDIKSI KE SIAPAPUN DAN DIMANAPUN
APABILA ADA YANG MENGGUNAKAN
NAMA NAMA KAMI
ITU TINDAKAN ORANG
YANG MEMANFAATKAN NAMA KAMI
HANYA UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI
"Jika ada agen judi yang curang di antara banner di web ini,silahkan konfirmasi ke saya ( JIKA TERBUKTI BANNER SAYA TURUNKAN WALAU SEWA MASIH ADA )

Komentar Terakhir anda

Foto Profil dari ozyhebatozyhebat on SGP RABU
kndalxxx on SGP RABU
jejef82 on Lomba 10 Line Malaysia
kndalxxx on SGP RABU
E D U N on HK RABU
pujasera on SGP RABU
AAN on SGP RABU
benu on SGP RABU

PENGUNJUNG


ADMIN PTP
SALSAHEBAT OZY PTP

LOGIN






61 queries. Load 0,144 sec. Executed 0.104 sec. Cpu 0.23
Lewat ke baris perkakas